Surat untuk adek

Adik-adik mahasiswa yang saya hormati,

Hari ini saya meninggalkan keluarga saya dengan perasaan campur aduk. Saya sedih karena tidak bisa bersenang-senang dengan mereka, tetapi saya bahagia karena bisa bertemu dengan anak-anak muda harapan bangsa. 

Saya bisa memilih tidak memikirkan mahasiswa, tapi suami dan papa saya selalu menghargai setiap kegiatan saya dengan kalian.

Saya bisa memilih tidak menyampaikan kalimat-kalimat yang bisa meruntuhkan keangkuhan kalian, tapi anak saya selalu bertanya “mama kok gak kerja?”

Saya bisa memilih mengerjakan kegiatan diorganisasi yang membuat saya kaya dan membuat saya tidak seharian diluar, tapi mama dan adik saya selalu menawarkan “kami bisa jaga gavi hari ini”.

Saya bisa memilih jadi pembicara ditempat-tempat yang membayar saya dengan banyak uang, tapi saya merasa uang yang banyak bukan penentu kebahagiaan.

Saya memilih untuk bersama kalian. Membiarkan diri saya ditunjuk-tunjuk oleh telunjul tangan kiri kalian. Membiarkan ekspresi tidak sopan bertebaran di kelas. Membiarkan kalian menganggap remeh kegiatan yang kami rancang hingga kami bahkan tak sempat makan tahu gunting. Membiarkan kalian menunjukkan bahwa “kami yang paling paten, sedangkan anda adalah orang yang menunggu honor kegiatan ini”. Membiarkan kalian menunjukkan betapa galaunya kalian, betapa kalian sangat butuh untuk dirangkul dengan kasih sayang. Saya bahagia dalam drama keangkuhan kalian.

Mahasiswaku yang terhormat, kalian tidak akan membaca curahan hati ini. Tidak banyak yang tahu blog ini hahahahahjaha

Jadi dek, tolonglah ya…hargai perjuangan papa, mama, adik, suami dan anak saya. Gosah sok paten kali kelen. Teriak-teriak walk out lah, hidup mahasiswa lah. Siapkan dulu kuliahmu, datang tepat waktu pas kuliah dan belajar sopan santun-tata krama sama sesama manusia. Kalau ga bisa kau diatur, gosah kau sok-sokan mau ngatur orang lain.

Sial

Siapa kita? 
Apa mungkin keluhan ttg asap bisa sampai ke pimpinan daerah dan pimpinan negara? 
Kita ini dianggap berlebihan karena mengeluh tentang asap.
Seperti keluhan tentang kurikulum K itu, K ini. Seperti keluhan tentang sistem ini, sistem itu. Seperti keresahan kita tentang teman sesama manusia kita yang tidak diberi perawatan kesehatan karena tidak punya uang. Seperti ketakutan kita melihat buku pelajaran anak kelas 1 SD. Seperti keresahan kita ada perokok yang akan marah kalau diminta untuk tidak merokok di ruangan kita. Seperti kemarahan kita pada dosen yang sesuka perutnya menggunakan kekuasaannya untuk menjadi orang sombong. Seperti kemarahan kita pada mereka yang punya banyak uang dan menggunakan uangnya untuk melancarkan semua kejahatannya. Setiap keluhan kita hanya dianggap ekspresi manja dan berlebihan.
Percayalah kawan, kita sedang ditawan oleh dunia.

Catatan Harian

Betapa mengerikan.

Uang.

Betapa uang dapat mengubah apapun. Gadis lugu menjadi wanita tidak lugu lagi, berlagu sana-sini demi bertambahnya uang. Semakin banyak uangnya semakin hilang keluguannya. Sampai muncul lagu-lagu lain yang membawa hidupnya seolah berada di dimensi lain. Berbeda dengan dia yang dulu lugu tanpa uang.

Betapa uang dapat mengubah apapun. Mahasiswa penikmat idealisme kehilangan semangat perjuangan karena sibuk mengejar dan menjaga uang. Uang yang membuatnya mendapat kenyamanan tanpa repot mempertahankan idealisme. Taik kucing idealisme, katanya. Baginya lebih penting bangun pagi dan membuka pintu sumber uang daripada bangun pagi dan merenungi idealisme. Idealisme yang dulu dibangunnya demi kesejahteraan orang banyak, kini hilang tak berbekas ditelan kesejahteraan diri sendiri.

Dosen bisa masuk neraka

Berada di kelas dan memandangi wajah anak-anak muda. Itu pekerjaanku. Setiap hari.

Ada anak muda yang kerjaannya tidur di kelas, pas saya ngajar. Ok, biasalah kan. Tapi ada juga anak mudah yang tidur pas ujian. Ok 😁

Suatu hari, saya diminta untuk jadi juri lomba debat. Pengalaman baru dan dapat kejutan. Salah satu anak mudah yang suka tidur itu ikut di lomba debat dan dia menang, juara 1. 

Saya kemudian bingung. Harusnya saya mengucapkan selamat padanya, tapi terlalu malu untuk dihakimi oleh perasaan. Saya merasa anak muda itu berkata “Tengok ni, aku bisa. Kelen aja yang salah ngajarnya makanya aku gagal terus”. 

Begitulah, padahal anak muda itu gak kayak gitu sepertinya, hahahaha 😄

Intinya adalah saat ini saya berpikir untuk melupakan semua evaluasi saya sebelumnya tentang dia. Saya mau netral. Saya tau dia pintar. Saya yang salah. Dia spesial, maka harus diperlakukan spesial. Maafkan saya, anak muda.